Saat Tanah Tak Lagi Menampung Hujan, Awal dari Kehausan yang Mengancam Masa Depan
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan hutan hujan tropis dan sumber daya air, tetapi kini menghadapi krisis air bersih yang semakin mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, lebih dari 11 juta penduduk mengalami kesulitan memperoleh air bersih, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara. Kondisi ini dipicu oleh degradasi lahan dan kerusakan hutan yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan sehingga cadangan air tanah terus menurun dan sumber air lebih cepat mengering saat mu
Admin Jurnalistik
Penulis
Jember, 17 Juni 2026. Jurnalistik SMA Al Furqan Jember - Selama ini Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alamnya. Bukan tanpa alasan, sebab luas hutan hujan tropis Indonesia mencapai 126 juta hektare, dan mencakup sekitar 59% dari total daratan, hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo. Dengan rata-rata curah hujan melebihi 2.000 milimeter per tahun, total volume air Indonesia diperkirakan mencapai 2.018,7 hingga 3.900 miliar meter kubik. Akan tetapi, di balik kekayaan alam yang begitu besar ini, ternyata Indonesia justru menghadapi persoalan yang tidak terduga, yaitu krisis air bersih yang kini mulai dirasakan oleh jutaan masyarakat di berbagai daerah.
Hal ini bukan lagi sekadar wacana atau prediksi jauh di masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi banyak orang. Pada tahun 2025, lebih dari 11 juta jiwa di Indonesia dilaporkan mengalami krisis air bersih di berbagai provinsi, dengan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara menjadi wilayah yang paling rentan. Setiap tanggal 17 Juni, dunia memperingati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, dan pada tahun ini momen tersebut terasa semakin relevan untuk direnungkan bersama, mengingat kondisi yang sedang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan realita yang bisa menjadi ancaman bagi kehidupan. Kondisi ini tentu menjadi sebuah ironi tersendiri bagi negeri yang sebenarnya kaya akan hutan dan air.
Di balik krisis ini, ada hubungan yang sering tidak disadari banyak orang, yaitu keterkaitan antara kerusakan lahan dan krisis air. Ketika hutan ditebang dan tanah dibiarkan tanpa vegetasi yang memadai, air hujan yang seharusnya meresap secara perlahan ke dalam tanah justru mengalir begitu saja di permukaan. Akibatnya, cadangan air tanah tidak terisi dengan baik, sementara lapisan tanah subur ikut terkikis oleh erosi. Ketika musim kemarau tiba, sumur menjadi lebih cepat kering dan debit sungai pun menyusut secara signifikan. Proses ini berlangsung seperti tabungan yang terus dikeluarkan tanpa pernah diisi kembali, sehingga lambat laun akan habis dengan sendirinya.
ang patut menjadi perhatian, musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak seperti biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan sejumlah peringatan yang penting untuk diwaspadai bersama. Musim kemarau 2026 diprediksi akan datang lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal, dengan sekitar 61,4% wilayah Indonesia atau 429 zona musim diperkirakan akan mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026, mencakup sebagian besar wilayah Indonesia barat, tengah hingga ujung timur. Wilayah Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan, karena 93 hingga 95 persen wilayahnya diperkirakan mengalami musim kemarau dengan curah hujan jauh lebih rendah dari rata-rata tahunan. Apabila tahun-tahun sebelumnya wilayah Nusa Tenggara sudah mengalami kekeringan yang cukup parah, tahun ini situasinya berpotensi menjadi lebih berat lagi.
Dampak kekeringan ini juga tidak berhenti pada sulitnya mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, tapi merambat ke aspek kehidupan yang lebih luas. Produksi beras nasional bahkan turun hingga 8% pada tahun 2025 akibat kekeringan berkepanjangan, sehingga harga pangan ikut naik dan inflasi nasional pun semakin terasa. Tak hanya itu, ribuan hektare lahan pertanian mengalami gagal panen, sementara warga di beberapa desa terpaksa membeli air dengan harga antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per jeriken. Kondisi ini tentu jauh berbeda dari kemudahan yang biasa dirasakan masyarakat perkotaan yang hanya perlu membuka keran untuk mendapatkan air.
Dampak lain yang sering kurang diperhatikan adalah ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Di daerah yang terdampak kekeringan, tercatat peningkatan kasus diare dan penyakit kulit hingga 35%, karena banyak warga terpaksa mengonsumsi air dari sumur dangkal atau sungai yang sudah tercemar. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berpotensi menjadi sumber penyakit ketika kondisi krisis sudah cukup parah. Sementara itu, kota-kota besar seperti Jakarta menghadapi masalah yang berbeda namun sama seriusnya, mengingat lebih dari 40% wilayah Jakarta kini berada di bawah permukaan laut akibat kombinasi eksploitasi air tanah yang berlebihan dan naiknya permukaan laut.
Semua permasalahan ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, karena melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kebijakan tata kelola lahan yang masih memerlukan perbaikan, hingga kebiasaan masyarakat dalam menggunakan dan menjaga sumber air. Akar permasalahannya memang kompleks dan bersifat multidimensi, mulai dari kerusakan lingkungan, tekanan jumlah populasi, hingga tata kelola yang masih lemah. Meski begitu, kompleksitas ini bukan berarti tidak ada jalan keluar yang bisa ditempuh.
Beberapa langkah pencegahan sederhana justru bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Ancaman kekeringan dapat dicegah melalui berbagai tindakan, seperti menanam pohon, membuat sumur resapan, memanen air hujan, serta mengurangi pencemaran pada sumber-sumber air seperti sungai. Langkah-langkah tersebut tidak memerlukan keahlian khusus, melainkan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti menghemat penggunaan air dan turut menjaga kebersihan lingkungan sekitar sumber air.
Pada akhirnya, setiap tetes air hujan yang turun adalah kesempatan bagi alam untuk menyimpan cadangan air bagi musim kemarau yang akan datang, selama kondisi tanah masih cukup sehat untuk menyerapnya. Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia ini hendaknya tidak hanya menjadi peringatan yang berlalu begitu saja, melainkan menjadi pengingat bahwa ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang sangat bergantung pada keputusan yang kita ambil hari ini, baik untuk menjaga kelestarian tanah dan air, ataupun membiarkannya terus terkikis hingga sulit diperbaiki kembali.
Sumber: https://finance.detik.com/foto-bisnis/d-8205755/mahalnya-air-bersih-di-muara-angke?page=2
Sumber: https://lestari.kompas.com/read/2023/10/23/100000086/warga-ntt-tak-lagi-bertaruh-nyawa-untuk-dapat-air-bersih?page=all
Ditulis oleh Anggota Tim Redaksi Jurnalistik SMA Al Furqan Jember (Salsabila Syifaul Imtinan)
Tanggal: 17 Juni 2026
Baca Juga